Ternyata Ada 5 Gaya Bahasa Menulis. Kamu Yang Mana?

Ternyata Ada 5 Gaya Bahasa Menulis. Kamu Yang Mana?

Aktivitas menulis tidak pernah terlepas yang namanya Gaya Bahasa.
Di mana gaya bahasa itu mencermin gaya bicara Kamu juga dan nada suaramu juga.
Walaupun tulisan Kamu tidak mengandung suara.
Karena tulisan itu akan tervisualisasikan (baca: terbayang) dalam benak pembaca.
Ya, seperti halnya kita saja, suka membayangkan orang yang menulis artikel atau buku. Seperti itulah mereka akan memvisualisasikannya.
Ada banyak gaya bahasa, tetapi kamu bisa memilih sesuai apa yang kamu inginkan.
Artinya siapa pun bisa menggunakannya, yang paling penting adalah kamu merasa nyaman dengan apa yang kamu tulis.
Karena yang paling penting adalah kamu nyaman dengan apa yang kamu tulis.
Karena pembaca bisa merasakan mana tulisan yang menyemangati dan mana tulisan yang isinya ada keraguan.
Hehe…
Apa yang tertulis di sini bisa saja tidak ada di aturan buku.
Karena Saya ingin memberikan wawasan kepada kamu agar kamu bisa menulis dengan nyaman sehingga kamu bisa menulis dengan lancar. Mari simak.
1. Baku tapi Santai
“Baku tapi santai? Gimana tuh maksudnya?”.
Begini maksudnya. Baku itu kata katanya tetapi dalam penyampaiannya tetap terasa santai dan tidak memberatkan si pembaca dalam memahami tulisan.
Seperti tulisan blog yang tertuang di dwiandikapratama walaupun baku, tetapi masih menggunakan kata keseharian yakni “nggak”.
Karena tidak semua orang nyaman menggunakan kata “tidak” makanya diganti dengan “nggak”.
Karena menulis adalah bagian dari bahasa hati yang tertuang. Hehe.
Jadi kalau kamu membaca tulisan yang menggugah hati alias baper (baca: bawa perasaan) berarti penulis sudah melibatkan hati dalam membacanya.
Kalau pusing, berarti logika semua. Atau Andanya kurang mengerti. Hehe.
Untuk gaya bahasa menulis, tidaklah baku juga, artinya kamu bisa menulis sesuai kenyamanan hati.
2. Santai dan Gaul
Bila kamu ingin membaca tulisan santai dan gaul, bacalah tulisan tulisan para komika.
Seperti Raditya Dika, Ernest Prakasa, dsb. Mereka semua menulis layaknya berbicara di hadapan kamu sendiri.
Karena mereka menggunakan bahasa santai dan gaul.
Kenapa mereka memilih untuk menggunakan gaya bahasa seperti itu?
Karena target market mereka adalah anak muda.
Anak muda itu tidak suka dengan tulisan yang berat, kaku, dan baku.
Makanya buku buku mereka adalah sebagai penghibur dikala hati sedang lara. Hehe.
Begitu juga Saya menulis buku bukan sekedar gaul, Saya menuliskan kisah keseharian Saya di sekolah.
Tetapi karena Saya buku motivasi, makanya konten yang Saya tulis adalah konten motivasi yang dibungkus dengan menggunakan gaya bahasa anak muda yakni menggunakan kata “gue lu”.
Dan itu bersahabat dengan keseharian, jadinya mereka terbiasa (familiar) ketika membaca.
Bahkan ada yang mengatakan.
Seperti tidak membaca buku.
Karena saking seperti percakapan sehari hari (tapi tidak berbentuk percakapan).
3. Baku dan kaku
Gaya bahasa menulis seperti ini biasa ditulis untuk karya ilmiah dan jurnal.
Biasanya memerlukan data dan sumber yang harus jelas.
Karena apa yang mereka tulis harus dipertanggungjawabkan sumber dan keasliannya.
Bukan hasil copas atau pun menjiplak dari suatu buku.
Walaupun semua tulisan juga tetap dipertanggungjawabkan.
kamu gunakan gaya menulis ini ketika kamu ingin menulis karya ilmiah atau jurnal.
Dan biasa ada mentor untuk membimbing kamu menulis.
Karena memang tidak mudah menulis dengan gaya bahasa menulis yang baku dan kaku.
Disamping kata kata yang kita sampaikan harus sesuai EYD dan juga susunan katanya harus tepat.
Memusingkan memang, tetapi kalau kamu bergelut di dunia karya ilmiah dan jurnal.
Ini adalah sebuah keharusan.
4. Bercerita
Manusia pada dasarnya suka sekali dengan cerita.
Maka dari itu bila kamu pusing dengan jenis jenis gaya bahasa menulis di atas, abaikan saja!
Kini kamu saatnya bercerita kepada banyak orang.
Bahwa kamu mempunyai tulisan yang layak untuk dibaca.
Terserah kamu ingin seperti apa cerita tersebut.
Pesan yang disampaikan bisa sesuai cerita yang kamu sampaikan.
Yang jelas itu bisa mendatangkan manfaat dan inspirasi bagi pembacanya.
Untuk bercerita kamu tidak harus selalu menggunakan kata baku dan kaku.
Bahkan menggunakan kata kata yang biasa yang sehari hari digunakan pun boleh saja.
Yang paling penting Kamu bisa menulis dengan gaya seperti bercerita di atas panggung hehe.
Alias story telling.
5. Curhat
Kalau Kamu memang sama sekali pusing dengan semuanya.
Kamu bisa pilih ini. Yakni dengan bahasa curhat.
Karena itu benar benar mencerminkan kondisi hati Kamu saat itu.
Tetapi risikonya adalah kalau Kamu memang curhat tentang masalah hidup.
Ya Kamu akan kehilangan privacy berhargamu.
Kamu boleh menyimpannya saja atau mempublikasikan tetapi dengan nama berbeda atau link yang disembunyikan.
Karena curhat dan menuliskannya, itu membuat hati kamu menjadi lebih lega dan damai.
Inilah 5 jenis gaya bahasa menulis. Kamu memilih dari 5 pilihan ini.
Yang Saya tekankan. Pilihlah yang membuat hati Kamu nyaman.
Jangan terlalu banyak berpikir untuk menulis seperti apa, konten yang seperti apa, abaikan dulu pikiran yang seperti itu.
Yang paling penting. Menulislah tanpa berpikir bahwa tulisan itu jelek, tidak enak dibaca, yang paling penting adalah Kamu menuangkan apa yang ada di pikiran Kamu. Sekian

3 Langkah Mudah Menjadi Seorang Penulis Handal – Masriyo.com

3 Langkah Mudah Menjadi Seorang Penulis Handal - Masriyo.com

Menjadi PENULIS adalah dambaan setiap orang yang ingin menjadi seorang penulis.

Walaupun tidak semua ingin menjadi penulis, tetapi jauh dari lubuk hati yang paling dalam pasti ada niat untuk menjadi penulis.

Karena menulis adalah bagian dari berbagi atau membagikan manfaat lewat tulisan.

Tetapi karena suara hati itu kecil dan tidak terlalu keras dan tertutupi suara pesimis. Pada akhirnya niat itu diurungkan.

Alasan terbesar mereka yang mengaku tidak ingin menjadi penulis adalah TIDAK BISA MENULIS. Padahal itu, bukanlah sebuah halangan dan hambatan.

karena MENULIS seperti halnya berbicara. Hanya perlu dilatih sampai terbiasa.

Bukan kah kamu pernah mendengar bahwa awalnya kita yang membentuk KEBIASAAN.

Lalu pada akhirnya KEBIASAANLAH yang membentuk diri kita.

Karena setiap hari kita melakukan kebiasaan yang sudah lama dan sering kita lakukan.

MENULIS juga sebuah kebiasaan. Yakni KEBIASAAN menuangkan PIKIRAN dalam bentuk tulisan.

Jadi menulis itu tidak selalu berkaitan dengan karya ilmiah atau ilmu pengetahuan.

Menuliskan sebuah cerita pribadi juga bagian dari menulis. Maka jangan dijadikan sebuah alasan untuk tidak bisa menulis.

Biasa kita berkata tidak bisa menulis, itu bukan benar benar tidak bisa melainkan karena harapan (ingin buat buku ini, itu) belum sesuai dengan sumber daya (resourcesfull) yang kita miliki.

Maka dari itu terkadang kita langsung melabeli (memberikan label) bahwa diri kita tidak mampu untuk menulis.

Dan kata kata “TIDAK BISA” menyumbat ide ide yang ada di pikiran kita.

Saya sangat berani mengatakan bahwa MENULIS itu adalah sebuah KEBIASAAN, bukan bakat.

Karena sebelumnya Saya tidak bisa lancar menulis dan tidak menyukai aktivitas membaca (membaca adalah pelurunya seorang penulis).

Baiklah, tidak usah panjang lebar lagi.

Saya akan memaparkan 3 langkah mudah untuk menjadi seorang Penulis.

Langkah Yang Pertama : Kamu harus banyak MEMBACA!

Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan membaca membuat kita kaya akan kata kata.

Sehingga kita akan sangat mudah untuk menuangkan apa pun yang ada di pikiran kita.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman yang memiliki pengalaman tinggi di dunia tulis menulis.

Wong dia jurnalis. Hehe.

Dia mengakatan begini “Dik, kamu itu hanya kurang baca aja kok. Soalnya SOLUSI dari permasalahan menulis jadi mandeg, ya Cuma kurang BACA aja”.

Sekarang kamu sadar, kalau untuk menjadi seorang penulis itu mutlak harus banyak membaca.

Karena disitu kita bisa tahu mana yang akan kita tiru gaya tulisnya, dan jenis genrenya, dsb.

Karena gaya bahasa menulis yang tertuang dalam sebuah tulisan.

Mencerminkan bagaimana kamu berbicara kepada mereka.

“Tapi kan aku gak biasa membaca kak?”

Kalau tidak ingin membaca, jangan jadi penulis. Hehe. Sesederhana itu.

Terkadang kita selalu berpikir rumit dan kompleks agar mendapatkan jawaban yang tidak jelas dan tidak aplikatif.

Kalau kamu ingin menjadi seorang penulis, MEMBACA adalah sebuah keharusan untuk dilakukan.

Karena dengan MEMBACA kamu akan tahu bagaimana caranya memulai menulis. Ini SERIUS, hey!

Namun Saya juga akan berikan bagaimana agar kamu mau mulai membaca.

Yakni Segera ambil keputusan bahwa kamu juga akan menjadi SEORANG PENULIS.

Lalu tentukan alasan yang sangat kuat KENAPA kamu harus membaca buku itu.

Setelah itu, MULAILAH dengan santai.

Agar kamu merasa nyaman dengan membaca. Kalau saran Saya gunakanlah waktu 15 – 20 menit untuk membaca setiap harinya.

Tapi ingat! kamu harus lakukan secara KONSISTEN. Ingat, kebiasaan akan membentuk kita.

Langkah yang Ke Dua : MENULIS!

Adalah seorang yang BODOH. Belajar BERENANG hanya dari darat saja sambil mempelajari buku  buku dari perenang tingkat dunia.

MENULIS juga seperti berenang.

Kalau tidak melakukan latihan, ya sama saja.

Mungkin kamu mengkerutkan dahi, lalu mengatakan “lho kok malah menulis. Saya ingin menjadi PENULIS, kok malah dikasih langkah yang sederhana. Saya ada langkah cepat untuk menjadi seorang penulis!”

Tidak ada lagi cara menjadi SEORANG PENULIS selain banyak membaca dan banyak menulis.

Karena itu adalah LATIHAN membentuk KEBIASAAN menjadi seorang penulis.

INGAT! Kebiasaan yang awalnya kita bentuk, akan membentuk kita di akhirnya.

Awalnya memang terasa berat, ketika memulai membiasakan membaca, lalu menuliskan apa yang sudah dibaca.

Tidak lain, tidak bukan semua itu adalah jalan yang harus kamu tempuh.

INGAT! No Pain, No Gain. Tidak ada rasa sakit, sebelum kamu merasakan nikmatnya bisa menulis dan terbiasa membaca.

SEGERALAH! Menuangkan apa yang telah kamu baca dan yang ada dalam pikiran kamu (entah itu Ide, cerita masa lalu, curhatan hati, dsb).

“tapi kak aku masih males aja nih, gimana dong?”

Sederhana! Beli saja pulpen yang harganya 50 ribu. Agar kamu termotivasi untuk menulis. Hehe.

Walaupun di era yang serba gadget dan digital ini. Menulis dengan menggunakan kertas dan pulpen masih efektif.

Karena itu akan membentuk jaringan neuron baru di dalam otak kita.

Jadi kamu memiliki kebiasaan baru. INGAT! Mulailah sekarang juga! TANPA TAPI, TANPA NANTI!

Langkah yang Ke Tiga : MILIKI MENTOR

Apa itu mentor? Mentor ialah yang akan membimbing kamu dalam berproses.

Yang pengalamannya di atas kita. Makanya dia akan tahu di mana saja kesalahan kita dalam menulis.

Ya, seseorang yang akan mengembalikan kamu kepada track(jalan) yang sebenarnya. Juga membantu karya kamu semakin cepat selesai.

Yang terpenting dalam mentoring kamu harus menurut apa kata mentor. Karena mentor tahu potensi dan kekurangan kamu.

Mungkin sekarang kamu bertanya “kenapa siapa Saya harus berguru dan memiliki mentor?”.

Siapa pun orang yang lebih dulu menguasai skill menulis dari pada kamu. kamu layak jadikan seorang mentor.

Karena disatu sisi lebih berpengalaman dan juga sudah banyak melewati rintangan dalam proses menulisnya.

Walaupun Saya menyampaikan 3 langkah mudah menjadi penulis ini.

Tidak serta merta kamu langsung jadi penulis setelah mempraktikkannya.

INGAT! Karena semunya butuh proses.

Tetapi ini sudah menjadi jalan yang benar bagi kamu yang ingin memulai menjadi seorang penulis. Sekian

Memilih Profesi Yang Tepat? 8 Hal Ini Akan Membantu Untuk Menemukannya

8 tips memilih profesi yang tepat
Memilih Profesi gampang gampang susah atau susah susah gampang? Ah pertanyaan macam apa ini.. hehe..

yang jelas gak semua orang mudah menentukan profesi juga ada yang mudah sekali menentukannya…
Sebenernya ada beberapa cara untuk bisa menemukan profesi agar bisa benar benar menjadi bagian diri.. karena profesi juga bagian jiwa yang hilang…hehe…
Dengan kita bekerja sesuai hati. Tentunya membahagiakan. Iya ‘kan?
Aku sendiri butuh waktu 3 tahun untuk mencari profesi. Mumpung masih muda, aku langsung mencari mana yang pas.
Agar bisa segera diasah dan kelak akan lebih cepat ahli (kalau setiap saat diasah ya).
Nah, yang muda seperti kamu wajib banget ngenal diri dari sekarang supaya mudah menentukan profesi.
Di sini aku sampaikan dari pengalaman diri ku dan pengalaman orang lain. Jadi udah kebukti.. tinggal kamu yakin atau gak.. buat praktek… yuk simak.
#1. Kenali Diri
Ini yang paling penting.. paling awal.. untuk bisa menentukan mau jadi siapa kita.
Apa aja yang kita sukai sehingga profesi itu bisa menghidupi diri kita dan keluarga kita (karena kelak kita akan berkeluarga ya).
Kenali siapa kamu, apa keinginan kamu, apa visi kamu, dan sumber daya apa yang kamu miliki saat ini…
Temukan titik periperalnya.. (contoh gambarnya ada di bawah. Baca terus ya) titik temu antara yang aku sebutkan di atas..
Aku sendiri butuh waktu 5 tahun (dihitung dari 2 di sekolah dan 3 tahun setelah sekolah) baru menemukan profesi yang pas banget.
Inget. Profesi mu, Masa Depanmu. Jadi betapa pentingnya untuk menenukan profesi dari sekarang dengan mengenal diri lebih awal.
Jangan takut profesimu gak ada. Lihat para anak muda sekarang banyak memerankan profesi baru.. youtubers, selebgram, content creator, dsb…
#2. Tanyakan Orang Terdekatmu

Orang terdekat ini bisa orang tuamu, saudaramu, sahabatmu, dan kekasihmu (tapi jangan tanya pas lagi marahan ya.. yang keburukan dan kekurangan kamu yang disampaikan doi) atau mungkin mantan ya? Hehe..
Yang paling penting di sini adalah kamu bisa berpikir lebih objektif… lebih bisa melihat apa kelebihan yang ada di dalam diri.
#3. Minta Bantuan Psikolog

Kalau ada budget, ya boleh banget pergi ke layanan psikologi.. sepengetahuan ku budgetnya sekitar 500rb-an ke atas dan 1juta-an ke bawah..
Entah itu konsultasi atau emang melakukan tes minat bakat.. kalau para konsultan psikologi biasanya menggunakan MBTI (16 Kepribadian).
#4. Baca Buku Pengembangan Diri atau Psikologi

Membaca buku pengembangan diri atau psikologi adalah kunci untuk membuka pintu  kekuatan diri. Karena ilmu ini penting untuk dipelajari. Apa lagi berkaitan dengan diri alias self.
Dengan kita mempelajari pengembangan diri (self-development) dan psikologi. Ketika kita mengenal diri lebih dalam akan lebih mudah dan terarah.
#5. Membaca Kisah Sukses

Biasanya kita lebih mudah terinspirasi dari cerita sukses. Setelah mengenal diri lebih dalam dan menemukan apa yang diinginkan.
Kamu bisa banget cari orang yang similar dengan apa yang saat ini kamu jalani. Di situ kamu bisa amati bagaimana ia melakukan itu hingga sukses. Di situlah seni bagaimana berproses. ^_^
#6. Jalan Jalan ke Masa Lalu

Apa nih maksudnya? Jangan terburu buru langsung ke bayang mantan ya?
Karena yang aku maksud di sini adalah kegiatan atau aktivitas (masa lalu) yang kita lakukan yang memiliki nilai kebahagiaan dan rupiah.
Misal dari kecil itu aku dapetin kesenangan ketika ngulik komputer. Sampai pada akhirnya di SMA aku mendapatkan uang dari jasa install laptop..
Dari sini sebenernya udah tanda agar segera disimpulkan mau jadi siapa kelak di masa depan.
#7. Ikut tes psikologi

Kalau sebelumnya aku menyarankan untuk ke psikolog. Kalau kamu punya budget terbatas sama seperti ku…
Kamu bisa banget ikut tes psikologi online seperti di youthmanual. Di sana cukup lengkap banget dah.
Kalau ada budget ya boleh banget ikut STIFIn yang keakurasinya gak diragukan lagi. Karena menggunakan tes sidik jari kita.
Dan itu (kata penemu STIFIn) memiliki hubungan antara sidik jari kita langsung ke otak kita.
#8. Tanya Mentor atau Orang yang udah berpengalaman

Mentor itu berguna untuk mengarahkan kita ke jalan yang benar dan tepat.
Kehadirannya di kehidupan kita layakknya manisis yang lebih dulu tau jalan sebelum kita.. dia akan membantu kita untuk mencapai apa yang kita inginkan.
Emang idealnya mentor itu adalah orang yang udah mencapai apa yang kita inginkan sebelumnya.
Jadi ini sebagai pelengkap kalau apa yang kamu lakukan adalah benar dan ketika kurang tepat ada yang mengoreksi.
Itu 8 Cara Memilih Profesi yang Tepat di Era Cepat.
Aku menemukan titik periperal antara aku suka ngulik komputer (aku sebut sumber daya, karena aku memiliki kebiasaan ini sejak kecil) dengan interest pengembangan diri dan psikologi (sedangkan ini minat yang muncul beberapa tahun terakhir).
Kamu bisa lihat gambar di bawah ini…
periferal profesi
Karena saat ini aku udah memutuskan untuk jadi Fulltime Professional Blogger walaupun masih kuliah. Minimal komitmen di awal udah ada.. untuk terus mengembangkan ke depannya..
Ngulik itu bisa diarahkan di setting blog dan macam macanya. Pengembangan diri dan psikologi, dsb untuk mengisi blog tersebut…
Jadi, masih tetep bingung milih profesi?
Sekian informasi dari kami semoga bisa bermanfaat.

Beginilah Cara Orang Tua Di Jepang Mendidik Anaknya

Inspirasi itu tidak peduli diperoleh dari siapa dan darimana. Selama inspirasi itu bisa memberikan manfaat bagi kita, darimanapun diperoleh kenapa tidak. Kali ini, kita dapat meniru inspirasi dari Jepang, yaitu bagaimana Orang Tua di Jepang Mendidik Anaknya.

Kali ini, dikutip dari The EpochTimes, dalam hal mendidik anak, bangsa Jepang memiliki metode sendiri.

1. Hormat Kepada Yang Lebih Tua

  Anak-anak wajib dibiasakan memberi salam (menyapa) terlebih dahulu terhadap orang yang dijumpai.
Cara menyapa masyarakat Jepang adalah saling menatap kemudian saling membungkuk, setelah menmbungkuk kembali saling menatap mata. Hal ini merupakan budaya bangsa Jepang yang diwariskan dari setiap orang tua di jepang kepada anaknya.

2. Selalu Berterima Kasih

 Anak-anak wajib dan dibiasakan untuk mengucapkanan terima kasih secara lisan atau tertulis saat menerima kebaikan atau bantuan apa pun dari orang lain.
Bangsa Jepang rasa berterima kasihnya sangat tinggi. Bukan hanya itu, bangsa Jepang apabila mendapat kebaikan dari orang lain, ia akan membalasnya segera mungkin. Misalnya, ketika seorang bertamu di rumahnya, maka ia akan menyediakan bingkisan kepada sang tamu sebagai ucapa terima kasih telah bertamu di rumahnya.

3. Selalu Minta Maaf

 Jika melakukan suatu kesalahan atau merepotkan orang lain, sebaiknya langsung meminta maaf saat itu.
Minta maaf merupakan hal paling susah untuk dilakukan, padahal baik secara sengaja atau tidak sengaja sebaiknya kita meminta maaf dengan segera kepada yang bersangkutan. Bukan hanya itu, saat setelah merepotkan orang lain kita pun baiknya meminta maaf karena telah merepotkannya. Hal inilah yang dilakukan oleh bangsa Jepang.

4. Bicara Dengan Volume Rendah

 Di tempat umum (kecuali tempat yang bisa untuk bermain bebas) volume suara sebaiknya jangan sampai terdengar orang ketiga.
Di Jepang, orang tua selalu mengawasi volume suara anak ketika bermain di tempat umum, ketika mendapati anaknya bermain di tempat umum kemudian mengeluarkan volume suara yang keras, maka orang tua akan segera mengingatkannya untuk dihentikan dan mengurangi volume suaranya. Hal ini dilakukan kecuali anak bermain di tempat yang memang merupakan lokasi bermainnya.

5. Berbohong

 Tidak boleh bohong dan berbohong pada orang lain, jika tidak, Anda akan kehilangan kepercayaan yang paling berharga dari keluarga, kerabat atau teman-teman, yang akan membuat Anda menyesal seumur hidup.
Dimanapun, perintah untuk tidak berbohong sebenarnya disetujui oleh siapapun. Di Jepang berbohong merupakan perbuatan yang amat dibenci, bahkan sang anak yang berbohong akan kehilangan kepercayaan dari orang tuanya sendiri, diberikan pelajaran hingga sang anak merasa menyesal.

6. Kesombongan

Setiap orang itu tidak sama meski nama dan rupanya sama, jadi tidak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain.
Para orang tua di Jepang menanamkan kepada anaknya bahwa setiap orang itu adalah sama, walaupun nama dan rupanya berbeda. Sehingga kita tidak perlu merasa iri terhadap kelebihan orang lain. Hal ini terlihat pada anak yang bertingkah biasa-biasa saja ketika melihat anggota keluarganya memiliki kelebihan yang tidak ia miliki.

Jadi begitulah cara orang tua di jepang dalam mengajarkan anaknya, semoga artikel ini bisa bermanfaat.

Langkah-langkah Menanamkan Empati pada Anak Sejak Dini

Empati merupakan kemampuan kita untuk ikut memahami dan merasakan apa yang dialami dan dirasakan oleh orang lain. Penanaman empati pada diri anak harus dimulai sedini mungkin, sebab empati merupakan salah satu emosi inti yang menjadikan anak memiliki kepekaan dalam memahami apa yang dirasakan oleh orang lain.

Empati akan menjadikan anak menjadi peka akan kebutuhan dan perasaan orang lain sehingga akhirnya muncul dalam diri mereka suatu motivasi untuk membantu meringankan beban dan penderitaan yang dirasakan oleh orang lain.
Ketika empati telah mulai tertanam dalam diri anak, mereka akan cenderung bersikap dan berbuat untuk orang lain dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Kekuatan empati akan mendorong anak untuk bertindak dengan positif dan menghindari perilaku maupun sikap yang dapat merugikan atau menyakiti perasaan orang lain.
Empati pada diri anak akan berkembang dengan baik jika terus dipupuk melalui bimbingan dan arahan dari orang tua dan lingkungan di luar keluarga yang kondusif. 
Pada intinya empati merupakan sebuah kecerdasan moral di mana seorang anak dapat memahami emosi dalam diri orang lain.
Langkah-langkah berikut ini bisa dilakukan oleh orang tua dalam rangka menumbuhkembangkan sikap empati pada anak:
Memberikan bantuan pada anak untuk dapat memahami emosi orang lain dan juga mengenalkan kata-kata yang berhubungan dengan empati dan emosi. Hal ini diperlukan oleh anak agar ia dapat mengenali dan memahami emosi orang lain yang beraneka ragam.
Membantu anak dalam meningkatkan kepekaannya terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain dengan cara-cara tertentu yang pada intinya anak akan menjadi tau akan apa yang dibutuhkan dan dirasakan oleh orang lain.
Melatih anak untuk dapat bersikap dengan sudut pandang orang lain, bukan hanya dari sudut pandang atau perspektif dirinya sendiri. Dengan begitu, anak tidak akan menjadi orang yang cenderung egois dan membenarkan semua pandangan pribadinya.
Tiga langkah sederhana ini apabila dilakukan secara intens dan kontinyu insyaallah lambat laun akan mampu membentuk empati pada diri mereka di tengah dunia yang serba individualis dan hedonis-materialis seperti sekarang ini.
Seperti penelitian yang dilakukan oleh John Gottman, ditemukan bahwa kemampuan anak dalam memahami dan merasakan emosi orang lain dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika dibimbing langsung oleh orang tua. Temuan ini mengindikasikan bahwa peran lingkungan keluarga sangat menentukan tingkat empati pada anak-anak.
Dalam rangka mendidik anak tentang empati dan emosi, orang tua dapat melakukan empat hal yang disingkat dengan “TALK” sebagai berikut:
1. Tune-in
Orang tua berperan menjadi contoh bagi sikap empati itu sendiri dengan cara memperhatikan dan memahami perasaan anak. Banyak orang tua yang mengabaikan hal ini. Seringkali mereka bersikap acuh dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dirasakan oleh anak-anak mereka. Akibatnya, anak akan menjadi lebih tertutup dan enggan berkomunikasi secara intens dengan orang tuanya sendiri.
2. Acknowledge
Yaitu upaya orang tua untuk mencari tau penyebab munculnya beragam emosi dalam diri anak. Orang tua tidak selalu dapat memahami penyebab munculnya emosi tertentu pada anak. Terkadang mereka perlu untuk bertanya sebagai bentuk dari sikap empati mereka pada anak.
3. Label
Label yaitu kemampuan orang tua untuk mengenali dengan baik perasaan anak. Orang tua yang dapat mengenali gejala-gejala emosi yang muncul pada anaknya akan membuat anak itu merasa tenang dan senang karena hal itu membuktikan bahwa orang tua benar-benar sayang, perhatian, dan menghargai perasaannya.
4. Kindle
Berusaha mencari solusi atas masalah-masalah yang menyangkut kebutuhan anak. Anak-anak tidak mungkin dapat menyelesaikan segala permasalahannya sendiri tanpa bantuan dari orang tua. Oleh karena itu, respon orang tua untuk membantu mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya merupakan bentuk empati yang pada akhirnya dicontoh oleh si anak.
Nah, itulah pentingnya menanamkan empati kepada anak sejak dini serta langkah-langkah yang dapat tiempuh oleh para orang tua sebagai pihak yang paling berperan penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan empati dalam diri anak-anak mereka.

5 Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran yang Tepat

Secara etimologis, media berasal dari bahasa latin yang bermakna  perantara. Bentuk jamak dari “Medium” yang berarti perantara atau pengantar sumber pesan kepada penerima pesan. Sedangkan secara  terminologis media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai perantara penyampaian pesan (materi pelajaran) dalam rangka mencapai  tujuan-tujuan pendidikan/pembelajaran. Bertolak dari definisi tentang media di atas, maka Media Pembelajaran adalah segala  sesuatu yang dapat dijadikan perantara penyampaian pesan (materi) dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Setiap materi pelajaran memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pemilihan medianya pun berbeda-beda.
Sebab tidak semua materi dapat efektif apabila disampaikan dengan menggunakan satu ragam atau jenis media. Artinya, dalam memilih media yang paling tepat untuk materi tertentu, ada hal-hal lain yang harus kita pertimbangan dalam proses pemilihannya. 
Lima hal tersebut ialah sebagai berikut:
1. Karakteristik siswa
Kita tau bahwa setiap anak memilik karakter yang berbeda, meski terkadang kita menjumpai anak kembar secara fisik, namun pasti ada sisi-sisi perbedaan dalam karakter mereka. Perbedaan karakteristik siswa dipengaruhi oleh faktor yang ada di luar dirinya dan dari dalam dirinya sendiri.
Maksudnya, latar belakang keluarga, sosial, budaya, maupun ekonomi berperan dalam membentuk karakter siswa. Selain itu faktor bawaan seperti IQ dan kepribadian juga berperan di dalamnya. Inilah yang harus diperhatikan guru dalam memilih media pembelajaran.
2. Tujuan pembelajaran

Penting untuk diperhatikan, tujuan pembelajaran yang baik harus menyentuh tiga ranah sekaligus, yakni ranah afektif, kognitif, dan psikomotorik siswa. Jangan sampai tujuan pembelajaran hanya difokuskan pada pengembangan salah satu ranah saja, sebab hal itu berpotensi menghasilkan peserta didik yang mengalami “split personality”. Oleh karena itu, pemilihan media pembelajaran harus sejalan dengan tujuan pendidikan yang komprehensif di atas.
3. Sifat bahan ajar

Sifat bahan ajar ini juga perlu diperhatikan. Misalnya, apakah bahan ajar itu bersifat teoritis atau praktis. Bahan ajar yang bersifat praktis, seperti prosedur dan langkah-langkah dalam membuat sesuatu, tentu berbeda dengan bahan ajar yang menuntut penguasaan konsep-konsep yang sifatnya abstrak.
Bahan ajar yang sifatnya hendak menyentuh ranah afektif siswa, tentu tidak tepat apabila menggunakan media pembelajaran yang cenderung merangsang kognitif siswa, begitu pula sebaliknya, dan seterusnya. 😀
4. Pengadaan media

Pengadaan media berkaitan dengan dua hal, yaitu apa saja bentuk medianya dan bagaimana merancang atau mendesainnya dalam sebuah sistem pembelajaran. Alokasi waktu dan anggaran dana sangat penting dalam rangka pengadaan media ini. Dana yang cukup dan waktu pengadaan yang
tidak terburu-buru akan membuat media pembelajaran berfungsi dengan maksimal.
5. Sifat pemanfaatan media

Dilihat dari sifat pemanfaatannya, ada media pembelajaran yang bersifat primer dan ada yang sekunder. Bersifat primer berarti pemanfaatan media tersebut memang sebuah keniscayaan yang apabila diabaikan maka pembelajaran akan terhambat. Misalnya, apabila ada dosen yang dalam
penyampaian mata kuliahnya menggunakan PowerPoint, maka LCD dan komputer menjadi media primer yang harus dipakai. Sedangkan media sekunder sifatnya hanya melengkapi atau membantu media primer.
Itulah lima hal yang harus kita perhatikan dalam memilih media pembelajaran agar materi pelajaran dapat diserap oleh peserta didik secara maksimal, hingga akhirnya tujuan akhir atau goal dari pembelajaran dapat tercapai secara optimal.